Thursday, 19 February 2015

Metos Sepatu : Kajian Semeotika Roland Barthes

Suatu hari, saya pernah memasuki sebuah kantor di semarang. Saya bermaksud untuk mengajukan permohonan sertifikat karena sebuah prestasi yang pernah saya raih. Ketika saya tiba di bibir lantai, saya ditegur oleh seorang resipsiones karena kaki saya dalam keadaan telanjang, alias tidak memakai sepatu. Dengan satir ia berkata: “siapa saja yang masuk kantor ini harus memakai sepatu. Siapa yang tidak memakai sepatu berarti ia tidak menghargai saya”. kemudian, ia mengusir saya dan tidak memperkenankan menemui seseorang saya tuju di kantor tesebut.


Dari cerita di atas, saya bermaksud untuk menyampaikan bahwa sepatu, kini, menjadi salah satu busana, tidak hanya sebagai satu alat untuk melindungi kaki. Melainkan, menjadi bagian dari nilai dan norma yang harus ditaati. Dalam kontek cerita di atas, sepatu menjadi semacam ukuran yang mempengaruhi sebuah harga diri. Siapa yang tidak bersepatu maka ia akan disangsi karena ia dianggap melangar aturan yang disepakati. Dengan begitu secara otomatis, harga diri seseorang akan berkurang dihadapan orang lain.

Semiotika Barthes
Dalam kajian simeotika, hal ini menunjukkan bahwa makna konotasi sepatu lebih dominan. Makna konotasi adalah makna kedua; makna yang tidak tanpak sebagai akibat dari interpretasi atau penilain masyarakat terhadap sebuah tanda. Dalam hal ini, Roland Barthes merupakan salah satu tokoh yang secara khusus menekuni simeiotika ini. Semiotika konotatif adalah semiotika yang mempelajari makna kedua bagi sebuah tanda.[1]

Berdasarkan semiotika yang dikembangkan oleh Saussure, Barthes mengembangkan dua sistem penandaan bertingkat, yang disebut dengan sistem denotasi dan konotasi. Sistem denotasi adalah sistem pertandaan tingkat pertama, yang terdiri dari rantai penanda dan petanda, yakni hubungan materialitas penanda atau konsep abstrak di baliknya. Pada sistem konotasi, atau sistem penandaan tingkat kedua, rantai penanda/petanda pada sistem denotasi menjadi penanda, dan seterusnya berkaitan dengan petanda yang lain pada rantai pertandaan lebih tinggi.[2]

Sistem signifikasi tanda, sebagaimana dibahas oleh Barthes dalam bukunya Mythology, terdiri atas relasi antara tanda dan maknanya. Barthes membaginya menjadi dua sistem: pertama, sistem primer yang disebut dengan sistem denotatif. Kedua, sistem sekunder yang juga dibagi menjadi dua yaitu sistem konotatif dan metabahasa. Di dalam sistem denotatif, terdapat tanda dan maknanya, sedangkan dalam sistem konotatif terdapat perluasan atas signifikasi tanda pada sistem denotatif.  Adapun dalam sistem metabahasa terdapat perluasan atas signifikasi makna pada sistem denotative. Dengan begitu, dapat kita pahami bahwa sistem metabahasa merupakan perluasan dari sisitem denotatif.[3]

Metologi
Sepatu mempunyai interpretasi lain dari hanya sebagai alat untuk melindungi kaki, sebagaimana tujuan awal ia diciptakan. Sebagaimana para ahli sejarah memperkirakan, sepatu pertama kali dibuat pada zaman Es, sekitar 5 juta tahun yang lalu. Sepatu primitif (kuno) dalam jumlah besar pernah ditemukan di pedalaman Missouri, Amerika Serikat. Pernah juga ditemukan di pegunungan Prancis (Metrogaya.htm/2012). Sepatu yang terbuat dari kulit hewan atau semak-semak itu digunakan untuk melindungi kaki dari terik matahari dan dinginnya suhu.

Memakai sepatu menjadi semacam keharusan dan memiliki nilai. Nilai itu timbul dari sebuah kesepakatan masyarakat. Karena itu, ketika seseorang tidak menggunakan sepatu dalam kondisi tertentu yang diharuskan bersepetu, ia aka mendapat nilai min karena dianggap keluar dari kesepakatan. Inilah yang disebut oleh Barthes dengan mitos; makna konotasi yang secara sadar disepakati oleh satu komunitas. Dengan kata lain, sepatu menjadi bahasa moral karena makna konotasinya yang lebih dominan.

Dalam hal ini Barthes menyatakan bahwa pada tingkat denotasi bahasa menghadirkan konvensi atau kode-kode sosial yang bersifat eksplisit. Sedangkan pada tingkat konotasi, bahasa menghadirkan kode-kode yang maknanya bersifat implisit. makna tersembunyi inilah yang disebut oleh barthes dengan mitos atau metologi.[4]

Metos, menurut Barthes adalah sebuah pesan, bukan konsep, gagasan atau objek. Lebih khusus, metos didefinisikan dengan “bagaimana cara mengutarakan pesan”. Pesan yang ada dalam mitos adalah, bahwa ia tidak perlu ditafsirkan, diuraikan, atau dihilangkan. Menurut Barthes, membaca gambar sebagai suatu symbol adalah melepaskan realitasnya sebagai suatu gambaran; jika idiologi mitos itu jelas, maka ia tidak berlaku sebagai mitos. Sebaliknya, agar mitos itu manjur maka ia harus tanpak sepenuhnya alami.[5]

Mitos sepatu
Tidak hanya diperkantoran, memakai sepatu itu diwajibkan. Kewajiban bersepatu telah merambah berbagai ruang publik seperti sekolah, pabrik dan ruang publik yang lain. Itu artinya, makna konotasi sepatu telah menjadi sebuah metos.  dan mengikuti idiologi yang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Memakai sepatu pada waktu tertentu, saat ini, diyakini sebagai sebuah keindahan yang memiliki nilai moral.

Dengan demikian, dominasi sepatu sebagai simbol dari nilai dan moralitas dari pada makna denotasinya memiliki posisi menarik dalam kajian semiotika Barthes.


[1] Mbok Menik's Blog.htm
[2] Ibid
[3] Mbok Menik's Blog.htm. dikutip dari Roland Barthes, Mitologi, (Jogjakarta: Kreasi wacana, 2009) hlm. 158-162
[4] Ibid. Dikutip dari Tommy Christomy, Semiotika Budaya, (Depok: PPKB Universitas Indonesia, 2004), hlm. 94
[5] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari strkturalisme sampai posmodernitas, (Pustaka filsafat: Yogyakarta, 2001), hal. 193-194

1 comment:

IBU ERSIN Malaysia said...

ASSALAMU ALAIKUM.WR.WB.. SAYA TERMASUK ORANG YANG GEMAR BERMAIN TOGEL,SETELAH SEKIAN LAMANYA SAYA BERMAIN TOGEL AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN NOMOR SEORANG PERAMAL TOGEL YANG TERKENAL KEAHLIANNYA DI SELURUH DUNIA,NAMANYA
KIYAI_SUNUN DAN SAYA BENAR BENAR TIDAK PERCAYA DAN HAMPIR PINSANG KARNA KEMARIN ANGKA GHOIB YANG DIBERIKAN OLEH KIYAI 4D DI PUTARAN SGP YAITU 9010 TERNYATA BETUL-BETUL TEMBUS. SUDAH 2.KALI PUTARAN SAYA MENAN BERKAT BANTUAN KIYAI
PADAHAL,AWALNYA SAYA CUMA COBA COBA MENELPON DAN SAYA MEMBERITAHUKAN SEMUA KELUHAN SAYA KEPADA KIYAI_SUNUN DISITULAH ALHAMDULILLAH KIYAI_SUNAN TELAH MEMBERIKAN SAYA SOLUSI YANG SANGAT TEPAT DAN DIA MEMBERIKAN ANGKA YANG BEGITU TEPAT..,MULANYA SAYA RAGU TAPI DENGAN PENUH SEMANGAT ANGKA YANG DIBERIKAN KIYAI ITU SAYA PASANG DAN SYUKUR ALHAMDULILLAH BERHASIL SAYA JACKPOT DAPAT 500.JUTA,DAN BETAPA BAHAGIANYA SAYA BERSUJUD-SUJUD SAMBIL BERKATA ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….SEKALI LAGI MAKASIH BANYAK YAA KIYAI,SAYA TIDAK AKAN LUPA BANTUAN DAN BUDI BAIK KIYAI, BAGI ANDA SAUDARAH-SAUDARAH YANG INGIN MERUBAH NASIB SEPERTI SAYA TERUTAMA YANG PUNYA HUTANG SUDAH LAMA BELUM TERLUNASI SILAHKAN HUBUNGI KIYAI_SUNAN DI NOMOR HP: 082_349_535_132